Jumat, 01 Maret 2013

Alangkah lucunya Negeri Ini episode Money Politics

Alangkah lucunya negeri ini akhirnya berlanjut ke episode politik uang alias money politics. Saya kembali tertarik menulis ini karena kemarin tidak sengaja melihat video youtube dimana salahs satu calon pilkada gubernur 2013 jabar tertangkap kamera video  membagi bagikan uang ke peserta pawai.

Ah, tertangkap tangan mungkin sudah biasa, yang membuat lucu adalah ucapan pembuka di videonya yang bilang dengan lantang "Jangan ada money politics, karena itu akan membuat orang korupsi dikemudian hari" dan jika anda lihat video itu beberapa menit kemudian, dengan entengnya si calon membagi bagikan uang ratusan ribu ke peserta pawai.

Sebagian komentator di youtube --yang mungkin adalah simpatisan-- mengatakan itu bukan money politics, si calon ini (dede yusuf) mengeluarkan uang untuk membeli minuman (es teh). Alangkah lucunya negeri ini, masa beli esteh yang paling harganya 2000 perak sampai ngeluarin ratusan ribu rupiah?. Mungkin ada juga komentator yang bilang:" Lah, itu kan belinya banyak". Nah ini lebih menggelikan lagi, kalau memang uangnya buat penjual esteh, masa setiap tangan disekitar dede yusuf "Nyadong" alias meminta. Emang semua yang ikut pawai penjual es. Aduh aduh, alangkah lucunya negeri ini.




jika kita mau jujur, sebenarnya money politik ini sudah aja bahkan sejak saya kecil. Dari pilihan kayim(petugas yang mengurusi kelahiran, pernikahan dan kematian), kepala dusun, kepala desa sampai bupati itu ada namanya bagi bagi duit. Dalam bahasa jawa namanya "wuwuran".

Kalau orang orang saya tanya, loh kok diterima? Alasannya simple," lah ada yang ngasih uang kok ga diterima!", sebagian lagi bilang :" Nah, itu kan uang pengganti karena hari itu kita ga kerja", ada lagi yang bilang "Bodo amat dengan money politics, dia ngasih duit, ya gue terima, masalah saya mau pilih siapa terserah ane dong!". Bahkan Gubernur DIY pernah bilang, Kalau ada yang ngasih uang (money politics) di terima saja, tapi pilihlah calon sesuai dengan pilihan hati. Hal ini maklum, karena kadang semua calon memberikan uang ke pemilih. Waktu saya kecil, ada 3 calon kepala desa, tiga calon itu masing masing memberi 20ribu, 25 ribu dan 50 ribu. Keluarga saya juga dapat tiga tiganya (satu orang dapat 95.000). Waktu itu era 2000-an, uang segitu sudah sangat banyak untuk para penduduk desa karena rata rata pendapatan perhari waktu itu cuma 20.000.

Nah, termasuk juga masalah pawai besar besaran di gedung bung karno, yang datang luar biasa banyak kan? Tapi jujur aja, yang datang itu itu saja. Adik saya di jakarta, tahun 2009 lalu, kalau ada pawai ikut, bodo amat partai mana, katanya lumayan dapat 50 ribu plus makan. Nah, jadi jangan heran kalau para anggota DPR, kepala daerah dan para pejabat korupsi dikemudian hari. Alasannya simple, hitung hitungan bisnis, dulu modal berapa, sekarang gimana caranya balik modal.

Ya begitulah money politics, saya pesimis money politics bisa hilang dari indonesia. Karena ya begitulah kawan, Negeri ini adalah negeri dagelan. Di depan teriak teriak NO Money politics tapi tanganya bagi bagi duit (lihat video diatas). Alangkah lucunya negeri ini, alangkah lucunya Negeriku!

Tidak ada komentar: